Foto: Kios di Pasar Motoling yang jadi masalah. (Foto: manadoexpress.co)
Tanah Milik Diperjualbelikan, Rosye Minta Keadilan
Pembangunan Kios Di Pasar Motoling Bermasalah
Motoling, ME
Sudah lima bulan lebih pasar Motoling beroperasi. Namun pasar yang diresmikan gubernur Sulut ini menimbulkan beberapa persolan, salah satunya pembangunan kios yang didirikan di tanah milik warga.
Pendeta Rosye Tombuku warga Desa Ranoyapo, yang merupakan pemilik tanah merasa dibohongi. Dia kecewa karena bangunan permanen miliknya tempat dia membuka usaha rumah makan harus dibongkar dan dibangun kios yang baru oleh Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM).
Dia terpaksa merelakan bangunannya dibongkar dengan perjanjian semua kios yang dibangun di atas tanahnya menjadi miliknya. Namun justru yang terjadi tidak sesuai dengan perjanjian, dimana kios yang didirikan diatas tanahnya diperjualbelikan. Bukan hanya itu, tiga kios yang dibangun diatas tanahnya disinyalir sudah dikapling oknum anggota dewan dan pejabat.
"Sebelum pasar dibangun saya sudah berjualan disini, setelah pasar so mo bekeng, dorang bilang pasar akan dibongkar karena akan dibangun baru. Tetapi itu dibongkar bukan karena pasar punya. Pada waktu akan diukur mereka bilang, ibu itu ibu pe lokasi torang jo bangun akang,"ungkap Rosye saat memberi keterangan, Minggu (4/9).
"Tapi waktu itu kita bersih keras tidak bisa karena disitu sudah ada bangunan permanen milik sendiri. Tapi mereka mengatakan itu akan dibangun bangunan baru dan syaratnya itu akan dikembalikan kepada pemilik lahan. Sesuai perjanjian berapapun bangunan yang akan dibangun akan kembali kepada pemilik lahan, tapi saya tetap menolak," terangnya.
Karena mereka terus datang, dia menuturkan sempat bertanya kepada suaminya tapi jawabannya jangan jika tidak ada hitam di atas putih. Namun mereka terus membujuk dan mengatakan sayang jika bangunan yang akan dibangun jatuh ke tangan orang lain.
"Saya sempat bilang yang akan dibangun ini bangunan beton bukan kayu yang bisa dipindahkan. Ini bisa jadi masalah besar jangan di belakang ngoni putar bale," katanya.
Dia menjelaskan, mendengar jawabannya mereka kembali meyakinkan hal itu tidak akan terjadi. Alasan mereka bangunan yang akan dibangun tetap akan kembali kepada pemilik tanah. Dan pernyataan mereka tersebut banyak didengar oleh saksi.
"Waktu itu kita sempat mengatakan jangan badusta, dan mereka mengatakan jika hal itu terjadi pemilik lahan bisa menghancurkan bangunan yang dibangun. Akhirnya kita mengiyakan. Masalahnya waktu itu tidak dibuat surat. Sementara pada saat surat diminta mereka hanya bilang nanti, masa kwa pendeta torang mo badusta akang," kisahnya.
Kini dia meminta keadilan atas apa yang dialami dan mengancam akan membongkar seluruh kios yang dibangun di atas lahannya. Dia juga kaget, kios yang didirikan diatas lahannya diperjualbelikan dengan harga mencapai Rp30 juta.
"Saya bingung kenapa terjadi seperti ini. Serta pasar sudah jadi, ada pengumuman pasar akan segera pindah. waktu itu juga saya sudah siap-siap untuk pindah. Tapi waktu itu ada ribut-ribut yang mana kios yang berada di pasar dijual dengan harga Rp30 juta. Saya sempat bertanya-tanya kenapa harus membayar," jelasnya.
Dia juga kaget bukan kepalang, seorang ibu datang dan memberitahu bahwa ada kios yang dibelinya tepat diatas tanah miliknya. Mendengar itu dia terkejut dan langsung mencegat ibu tersebut dengan mengatakan kios tersebut miliknya sesuai perjanjian dengan Dinas Pasar.
"Saat pasar sudah pindah ada seorang ibu yang datang dengan mengatakan sudah mendapatkan salah satu kios dengan membayar Rp30 juta tapi waktu itu langsung saya cegah dengan mengatakan lahan tersebut milik saya," urainya.
Tidak terima diperlakuan seperti ini, dia mendatangi Disperindagkop dan UKM Minsel untuk mencari tahu kenapa masalah ini bisa terjadi. Persoalan ini juga menurut dia sudah dilaporkan ke Ketua DPRD Minsel untuk ditindaklanjuti.
"Ini bagian saya dari warisan orang tua. Jadi kita punya dang ini ngoni mo perjualbelikan dang. Ngoni mo bersenang di atas penderitaan. Bilang bertemu dengan kita sapapun dia mau dewan atau sapapun kita nda mo tako," tegasnya.
"Justru itu kita langsung naik ka atas ketemu dengan Ibu Tetty dan Ibu Nini. Pada waktu itu Ibu Nini sempat bertanya mana itu kepala dinas, tapi pada waktu itu kepala dinas sudah lari dan kabid juga," tandasnya. (jerry sumarauw)



































