Sekolah Mandiri Ini Mengajarkan Siswa Lebih Berfikir Merdeka dan Kreatif

Diberi Nama SLAB


Kotamobagu, ME

Apa yang dilakukan oleh sekelompok pemuda yang tergabung dalam Saung Layung Arus Balik (SLAB), kiranya patut dicontoh oleh sebagian anak muda lainnya. Sebab, kreatifitas SLAB yang sekira beranggotakan 9 orang ini, lain dari biasanya.

Mereka mendirikan tempat belajar bagi para anak-anak dibawah umur yang sudah putus sekolah di Desa Bilalang 1, Kecamatan Kotamobagu utara. Tempat belajar SLAB pun hanya sebatas ruangan yang tak megah. Namun, metode pembelajaran yang diterapkan dalam SLAB-inilah yang menjadikannya bukan seperti sekolah biasanya. Muridnya diajarkan berfikir lebih kreatif dan merdeka, dibanding anak-anak yang duduk menimbah ilmu di sekolah pada umumnya.

Sandri Anugrah, salah seorang pengelolah SLAB, mengatakan, di SLAB ini dirinya bersama rekannya, mengajarkan kelas sejarah dan Budaya Bolmong. Bahkan, SLAB hadir untuk mendobrak kebekuan di dunia pendidikan, yang menerapkan gaya atau metode belajar monoton. “SLAB mencoba mengembalikan kemerdekaan anak-anak dalam berfikir merdeka dan berkreasi. Intinya SLAB menyanyikan metode blajar yang memerdekakan,” kata Sandri.

Dalam SLAB ini, metode belajar yang di gunakan adalah metode yang dikembangkan Paolo Freire. Dimana, anak-anak atau siswa tdk menjdi objek dalam proses belajar mengajar dan guru tidak menjadi tolak ukur kebenaran, melainkan guru dan siswa menjadi subjek dan disatukan dalam ilmu pengetahuan. “Anak anak yang belajar di SLAB bukan hanya dari desa Bilalang 1 tapi sudah meliputi desa tetangga diantaranya, Genggulang, bilalang 2, bilalang 3, bilalang 3 utara, bilalang 4 dan bilalang baru. Dan anak-anak yang ikut di SLAB ini terdiri dari 6 sampai 12 thn. Pelajaran yang diberikan, diantaranya bahasa inggris, sastra, kerajinan tangan, kesenian, sejarah dan budaya bolmong, menghitung cepat, serta yang terakhir kelas tokoh-tokoh dunia dan cerita rakyat,” bebernya. (yeyen)



Sponsors

Sponsors