Kapolresta Manado Akui Polisi Lakukan Kekerasan

Kapolda Janji Tindak Anak Buah 'Nakal'


Manado, ME

Sorotan publik menyasar kisruh yang terjadi di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Manado, Rabu (1/6) lalu. Saat aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Manado melakukan aksi damai. Merespon suara rakyat, Polda Sulawesi Utara (Sulut) telah mengambil tindakan. Penganiayaan terhadap 7 anggota GMKI yang diduga dilakukan oknum polisi dari Kepolisian Resort Kota (Polresta) Manado, sudah diproses hukum.

 

Diketahui, Tim Paniki Polresta Manado kala itu diduga menjadi 'bringas'. GMKI pun meminta agar Kapolda Sulut  bubarkan Tim Paniki. Para pengurus GMKI Manado mendesak agar Kapolda mengganti Kapolresta Manado, AKBP Suprayitno, yang baru sebulan lebih pimpin Korps Bhayangkara di Kota Tinutuan.

 

Mantan Wadir Pamovit Polda Sulut itu dinilai tidak bisa menangani anak buahnya. Dalam pertemuan di Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Sulut, akhir pekan lalu, puluhan anggota maupun pengurus GMKI Manado bersama Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Sulut, menuangkan rasa perih dalam dada mereka. Para aktivis pemuda ini diterima dengan baik oleh Kapolda Sulut, Brigjen Pol Wilmar Marpaung bersama beberapa Pejabat Polda Sulut di Ruang Anev, Lantai I Mapolda Sulut.

 

Kapolda pun menegaskan akan menindak tegas oknum polisi yang telah melakukan penganiayaan. "Kasusnya sudah berproses di Bid Propam Polda Sulut. Ini jadi pelajaran berharga bagi saya. Semoga tidak terulang lagi," kata Brigjen Pol Wilmar Marpaung pekan lalu. "Ini hanyak oknum bukan institusi. Kalau Tim Paniki dibubarkan siapa yang bakal tumpas pelaku kriminal," ujar Jenderal Bintang Satu ini.

 

Di hadapan Kapolda, mereka menceritakan kisah yang terjadi di kantor DPRD Manado. Seperti yang dikisahkan pengurus GMKI, Reky Sondak. Menurutnya, teman-temannya dianggap bak teroris saat menyampaikan aspirasi. Banyak yang jadi korban, padahal menurutnya mereka lakukan aksi damai bukan kegiatan kriminal. Dia menilai oknum polisi dan Sat Pol PP terlalu arogan. "Teman kami ada yang dikejar polisi sampai di Kelurahan Mahakeret. Kami bukan pelaku kriminalitas yang dikejar dan ditangkap serta dianiaya. Kami dibina dalam ibadah. Kami pegang Alkitab bukan pisau," keluh Reki dalam penyampaian pendapat kala itu.

 

Setelah selesai sampaikan pendapat, pengurus maupun korban, langsung berikan laporan di Bid Propam Polda Sulut. Tidak lama kemudian, Kapolda Sulut mengunjungi korban yang masih berada di rumah sakit.

 

Sementara itu, Kapolresta Manado AKBP Suprayitno, keesokan harinya, Jumat (3/6), mengunjungi para korban, baik yang berada di rumah sakit maupun di rumah. Didampingi Kabag Ops Kompol Dewa Made Palguna, Suprayitno meminta maaf. "Anggota yang diduga lakukan penganiayaan akan diproses. Mereka memang benar bawahan saya. Untuk biaya perawatan para korban akan kami tanggung," katanya.

 

Lanjut kata dia, berdasarkan penyelidikan, pihaknya sudah mengantongi oknum polisi yang lakukan kekerasan saat itu. "Ada sekitar 17 anggota polisi yang lakukan pengamanan kala demo. Mereka semua sudah dimintai keterangan. Di antara mereka, benar ada yang lakukan kekerasan. Bid Propam Polda Sulut sudah lakukan proses hukum. Sanksi atau kode etik akan diberikan," terangnya. "Anggota yang lakukan penganiayaan siap-siap ikuti sidang KKEP," pungkasnya.(tim me)



Sponsors

Sponsors