Foto: Kadis Dikbud Ferdinand Tangkudung, SIP, MSI ketika membagikan naskah UN tingkat SD di salah satu sekolah beberapa waktu lalu.(Istimewa)
Broken Home, Puluhan Siswa SD-SMP Mangkir UN
Bitung, ME
Memasuki hari ketiga pelaksanaan Ujian Nasional tahun ajaran 2015-2016 tingkat Sekolah Dasar, terungkap fakta yang sangat mengkhawatirkan bagi dunia pendidikan di Bitung. Pasalnya, data dari sumber Dinas Pendidikan dan Kebudayaan UN tingkat SMTP pekan lalu dari jumlah terdaftar 3238 peserta hanya diikuti oleh 3199 siswa, sedangkan khusus tingkat SD dari jumlah terdaftar 3855 peserta, hanya diikuti 3817 siswa.
Saat dikonfirmasi wartawan, Kadis Dikbud Kota Bitung, Ferdinand Tangkudung,SIP,MSI, menjelaskan 39 siswa SMP/MTs absen UN, dengan alasan drop out (DO) 29 siswa, ikut orangtua 4 siswa, meninggal 2 siswa, sakit 3 siswa. Sedangkan untuk SD, 38 siswa tidak ikut UN dengan alasan DO 17 siswa, ikut orangtua 10 siswa, sakit 4 siswa dan pulang kampung 1 siswa.
Menurutnya, hasil pantauan serta evaluasi terhadap ketidakhadiran peserta UN, baik di tingkat SD maupun SMP ,sangat didominasi oleh masalah broken home, sehingga mendekati waktu pelaksanaan siswa-siswa bersangkutan menghilang dan menyulitkan pihak sekolah.
Salah satu contoh kasus, jelasnya, dialami SD GMIM 3 Bitung kompleks Parigi Dolong memiliki 46 siswa peserta UN hadir lengkap, tetapi nyaris satu siswa hampir tidak duduk pada pelaksanaan UN. Menurut Kepsek SD GMIM 3, Alpion Takalawangen, siswa berinisial RP alias Rey setelah mengikuti ujian akhir sekolah menghilang dan jadi korban broken home.
Namun, karena upaya dan kerja keras saling koordinasi dan tanggap akan situasi, sehingga sebelum hari H pihak sekolah berhasil menjemput Rey di daerah Ranowangko Minahasa dan akhirnya bisa menyelesaikan Ujian Nasional.
Menanggapi itu, Tangkudung menyebutkan bahwa pihaknya selalu mengingatkan agar semua wali kelas dan Kepala Sekolah melakukan kunjungan ke rumah siswa (Teacher Visit Home). ”Sekaligus melakukan konseling kepada korban dan keluarga, guna mengantisipasi terjadi gangguan psikis anak akibat ulah orangtua,” pungkasnya. (Keket)



































