Akibat Pembalakan Liar, Sumber Mata Air Tiniawangko Terancam Kering


Sinonsayang, ME

Pembalakan hutan lindung di kawasan gunung Lolombulan menimbulkan keresahan bagi warga Desa Tiniawangko, Kecamatan Sinonsayang. Akibat pembalakan liar ini, sumber mata air di desa ini terancam kering.

 

Hukum Tua (Kumtua) Desa Tiniawangko, Rivo Moningkey mengungkapkan sangat penting menjaga kelestarian hutan tersebut, mengingat wilayah itu merupakan sumber mata air bagi masyarakatnya.

 

"Pembalakan liar di sejumlah titik sumber mata air ini, mengakibatkan pasokan air menurun. Kondisi ini akan bertambah parah jika musim panas tiba. Saat ini kondisi air tidak seperti beberapa tahun lalu, dimana pasokan mata air sangat melimpah," terangnya.

 

Semestinya menurut dia Dinas Kehutanan (Dishut) berkepentingan menjaga kelestarian sumber mata air. Karena masih menurut dia, jika hal ini dibiarkan, dipastikan lima tahun ke depan sumber mata air itu akan kering.

 

Diakuinya waktu lalu setelah dilaporkan sempat ada peninjauan lokasi oleh Dishut. Pada saat itu ditemukan tumpukan kayu hasil pembalakan liar. Namun setelah itu tidak ada tindakan terhadap temuan tersebut.

 

"Pemerintah daerah dalam hal ini Dishut harus bertindak tegas mencari orang-orang yang melakukan pembalakan liar. Jangan masalah ini hanya dibiarkan tanpa ada tindak lanjut," pintanya.

 

Selain itu, dia mengatakan, ini bisa berpotensi terjadi perkelahian antar warga. Karena jika tidak ada tindakan masyarakat Tiniawangko yang akan menghentikan aktifitas pembalakan liar ini.

 

Terkait masalah ini Kepala Dishut Minsel Frans Tilaar meminta agar pemerintah desa dapat memberikan nama-nama yang melakukan aktifitas pembalakan. Karena menurut dia jika tidak didukung data yang lengkap pihaknya sulit mengambil tindakan.

 

"Kami sudah meminta data siapa oknum yang melakukan pembalakan liar. Namun sampai saat ini tidak diberikan. Bagaimana kita bertindak kalau tidak ada data," singkat Tilaar. (jerry sumarauw)



Sponsors

Sponsors