Merasa di Anak Tirikan, Desa Durian Ancam Gabung Bolmong
Sinonsayang, ME
Ungkapan kekecewaan disampaikan warga Desa Durian, Kecamatan Sinonsayang, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) karena kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Kekesalan warga ini beralasan karena mereka merasa selama ini telah di anak tirikan dalam hal pembangunan infrastruktur. Untuk itu mereka mengancam akan bergabung dengan Kabupaten Bolaang Mongondouw (Bolmong).
Seperti diungkapkan Hukum Tua (Kumtua) Desa Durian Royke Rugian, selama ini desa mereka hanya dijanjikan akan pembangunan infrastruktur. Namun janji tersebut hanya sorga telinga. Apa yang mereka sampaikan saat musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) dan reses seolah tidak ada artinya dan hanya angin lalu saja. "Seharusnya daerah perbatasan menjadi perhatian. Dibandingkan dengan desa tetangga perbatasan, kita jauh tertinggal dalam pembangunan," timpalnya.
Masalah yang dihadapi sekarang adalah warga kesulitan mendapatkan air bersih. Begitu juga infrastruktur jalan desa yang sudah rusak parah. Hal ini menurut dia sudah berulang kali disampaikan dalam Musrembang dan Reses anggota DPRD Minsel dapil 3.
Bukan hanya itu, pada saat kampanye lalu, dia mengungkapkan Ibu bupati sudah menyampaikan dan berjanji pada masyarakat tentang jalan dan air bersih. Namun sampai saat ini janji itu tidak ditindaklanjuti dinas terkait. "Mungkin lebih baik gabung dengan Kabupaten Bolmong. Lihat saja dorang pe pembangunan sampai jalan pertanian diperhatikan," sindirnya.
Pernyataan Kumtua juga mendapat dukungan sebagian warga. Mewakili warga yang lain, Fekky Lempas mengatakan jika tidak ada perhatian dari pemerintah daerah, bergabung dengan Kabupaten Bolmong adalah pilihan untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi desanya. "Dalam situasi seperti mungkin jalan terbaik bergabung dengan Kabupaten Bolmong," ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Badan Pemberdayaan Desa (BPD) setempat Jan Momongan menjelaskan persoalan yang dihadapi saat ini dan perlu perhatian adalah ketersediaan air bersih. Selama ini masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih. "Memang ada delapan titik sumur bor yang dibuat dinas kesehatan beberapa waktu lalu, tapi itu tidak mencukupi kebutuhan air bersih dari 340 kepala keluarga dengan jumlah penduduk 1.205 jiwa. Setiap pagi dan sore warga harus antri ambil air," terangnya.
Dia menuturkan, dengan jumlah jiwa yang terus bertambah kebutuhan air bersih juga meningkat. Dampak dari musim kemarau juga menjadi penyebab pasokan air menurun. "Air yang ada sekarang hanya untuk memasak, sedangkan untuk mencuci baju warga memanfaatkan air sungai," akunya.
Dengan kondisi saat ini dia berharap ada perhatian dari pemerintah daerah. "Masalahnya desa lain sudah ada jaringan PAM. Untuk itu kita berharap apa yang kita keluhkan dapat ditindaklanjuti," ujarnya. (jerry sumarauw)



































