Sering Ditebang, Kawasan Hutan Mangrove Sapa Sidate Terancam Rusak
Tenga, ME
Akibat marak penebangan liar, kawasan hutan mangrove di Kecamatan Tenga, Desa Sapa dan Pakuure Utara wilayah Sidate terancam rusak. Dari pengakuan warga setempat, penebangan ini dilakukan orang luar.
"Penebangan sering dilakukan saat malam hari. Diperkirakan penebangan pohon lakukan malam hari karena kalau siang banyak aktifitas warga dilokasi tersebut," ungkap Jhoni Tamunu, warga Desa Pakuure Utara.
Hal itu turut dibenarkan Max Lempas warga setempat. Menurut dia penebangan banyak terjadi di wilayah desa mereka. Jarak hutan bakau yang mencapai 1,5 Km dengan pemukiman warga membuat pembalak leluasa melakukan penebangan.
"Dampak dari penebangan ini memang sangat banyak menimbulkan kerugian, baik dari segi sosial maupun ekonomi. Kerusakan hutan bakau membuat hasil tangkapan nelayan sekitar kesulitan mendapatkan ikan di daerah tersebut. Tangkapan ikan, kerang, kepiting dan udang berkurang drastis," jelas Lempas.
Menurunnya tangkapan nelayan diungkapkannya, karena kawasan hutan mangrove sebagai habitat berkembang biaknya bebagai jenis ikan. Selain itu, kerugian yang didapat bila hutan mangrove rusak salah satunya abrasi pantai yang akan berdampak pada terancamnya pemukiman penduduk dipesisir pantai.
"Jika ini terus menerus terjadi tentu akan menjadi bencana dimasa yang akan datang," ujarnya.
Secara terpisah Hukum Tua (Kumtua) Desa Pakuure Utara Fanny Terok mengatakan, seharusnya instansi terkait dalam hal ini Dinas Kehutanan dan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) harus lebih meningkatkan pengawasan terhadap kawasan hutan mangrove.
"Selama ini terjadinya pembalakan hutan mangrove di sini karena kurang perhatiannya Dinas Kehutanan dan DKP. Seharusnya ditempat itu dibanun pos pengawasan agar tidak terjadi pembalakan liar," tuturnya.
Selain pembalakan pohon mangrove, dia juga mengungkapkan di wilayah itu sering terjadi pengeboman ikan dan penangkapan ikan menggunakan racun potasium.
"Dengan adanya pos tersebut hal-hal ini tidak akan terjadi karena selalu diawasi, kalau perlu libatkan Polair dalam pengawasan," tukasnya.
Kepala Dinas Kehutanan Frans Tilaar saat dihubungi menyampaikan akan menindak tegas oknum yang sengaja melakukan pembalakan liar di kawasan tersebut. Menurut dia hal tersebut tidak dibenarkan karena akan merusak ekosistem yang ada di daerah tersebut.
"Kalau seperti itu, kita akan melakukan patroli dan melihat situasi di lokasi tersebut. Kita sudah sering memberikan himbauan kepada masyarakat jangan pernah menyentuh hutan bakau. Yang pasti dalam kasus ini kita akan buat penindakan dan akan diproses secara hukum," ujar Tilaar. (jerry sumarauw)



































