‘Lembaga Pendidikan Lupakan Anak Cucu’

Bahas Pendidikan, ‘Singa Bolmong’ Menangis


Manado, ME

Hal janggal terjadi di gedung cengkeh.  Sosok Julius Jems Tuuk yang dikenal ‘garang’ dengan ketegasannya, tiba-tiba bercucuran air mata.  Suasana tersebut tersaji saat pembahasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) antara Panitia Khusus (Pansus) dan Dinas Pendidikan Provinsi.

Legislator Sulut Daerah Pemilihan (Dapil) Bolaang Mongondow Raya ini mengaku, ketika dirinya menjadi anggota Badan Anggaran (Banggar) sangat kecewa dan meminta maaf kepada masyarakat karena tidak bisa memperjuangkan 20 persen untuk Dinas Pendidikan. Dirinya berharap, dengan dana sedikit, bisa dieksekusi dengan baik. Menurutnya, pendidikan sekarang hanya diperuntukkan bagi mereka yang punya duit.


“Misalnya, mereka yang masuk Fakultas Kedokteran harus bayar 200 sampai 300 juta rupiah. Logikanya, orang tua mereka adalah yang punya duit. Kalau mereka masuk, tidak mau ditempatkan di ujung-ujung. Jadi, kita semuanya hanya melihat dari sisi dana. Tidak melihat anak ini knowledgenya bagus tidak. Walaupun  yang lainnya mensuuport dinas ini, saya mengatakan lembaga ini melupakan anak cucu,” kata Tuuk yang kemudian sejenak terdiam, menahan air mata keharuannya.


“Minta maaf, saya sedikit terharu membahas pendidikan,” sambungnya.


Dengan mata berkaca-kaca, dirinya melanjutkan ucapannya. Ia mengungkapkan, di kampungnya Dumoga, tahun 70 sampai 80-an, ia melihat dengan matanya sendiri anak-anak berkualitas tapi mereka tidak bisa bersekolah. “Karena saya sadar Negara saat itu tidak memiliki kemampuan. Hari ini, negara sudah memiliki kemampuan. Tetapi pemangku-pemangku jabatan tidak memiliki hati untuk membangun jembatan emas ini. Kalau kita lihat angka putus sekolah sekarang ini banyak. Tapi, kita tidak punya hati untuk menyelesaikannya,” tegasnya.

Ia menambahkan, pemerintah lebih suka membangun infrastruktur daripada kepedulian kepada pendidikan.“Kita lebih suka membuat jembatan dan jalan daripada  pendidikan generasi kita. Padahal saya juga tidak yakin kalau itu bisa bermanfaat bagi masyarakat,” tutupnya.

 
Kepala Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Provinsi Sulut, Asiano Gammy Kawatu menyampaikan, dirinya berharap nanti dalam perubahan bisa terealisasi untuk permintaan dari anggota dewan tentang 20 persen. Kalau masalah dana pendidikan dirinya mengatakan, telah diupayakan dalam dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). “Dana bos jelas tepat sasaran. Kalau  anggota dewan terharu tentu kami juga lebih terharu. Kami mengapresiasi perhatian dari anggota dewan terhadap pendidikan,” ujar Kawatu.(tim me)



Sponsors

Sponsors