Dewan Pelesir, Agenda Rakyat Terabaikan


Manado, ME

Nada optimis penghuni gedung cengkeh untuk menyelesaikan 16 Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) bakal jadi lagu ‘mimpi di siang bolong’. Harapan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (Sulut), Andrei Angouw menuntaskan Ranperda itu, dinilai bak ‘berdoa tanpa bekerja’.

Di saat genting ‘kejar tayang’, beberapa anggota dewan malah melakukan pelesir ke luar daerah bahkan ke luar negeri. Parahnya, tour beberapa wakil rakyat disinyalir jadi pemicu kengganan personil lain untuk rajin kantor. Salah satu bukti,  agenda rapat Komisi II dengan Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Pemerintah Provinsi Sulut akhir pekan lalu, hanya dijamu Ferdinand Mangumbahang seorang.

“Saya tidak tahu kenapa mereka tidak hadir. Tak juga ingin menghakimi. Barangkali mungkin ada agenda yang lain. Yang jelas pertemuan dengan Dispenda tentu ditunda. Karena sama saja, saya pikir pihak yang lainnya juga seperti kepolisian dan Jasa Raharja juga perlu hadir,” ungkap Mangumbahang sehabis hearing bersama Dispenda, Jumat (1/4). 

 
‘Ngacirnya’ beberapa penghuni gedung cengkeh, diungkap Wakil Ketua DPRD Sulut, Wenny Lumentut. Dirinya mengatakan, ada sejumlah anggota dewan yang melakukan pelesir ke luar negeri dengan tujuan tidak jelas. Dengan fenomena itu, Lumentut secara pribadi sangat pesimis 16 Ranperda yang sementara digodok DPRD Sulut bakal selesai tahun ini. Optimisme yang digaungkan semula  hanya menjadi isapan jempol semata. “Coba hitung mulai dari sekarang sampai bulan Desember. Tinggal beberapa bulan lagi. Apakah cukup untuk Pansus (Pantia Khusus) dan Komisi membahas semuanya,” jelas Lumentut akhir pekan lalu.

Sebelum ‘tragedi’ hearing Komisi II DPRD Sulut dengan Dispenda akhir pekan lalu, Ketua DPRD Sulut, Andrei Angouw sudah lebih dulu melontarkan pernyataan tegas terkait kedisiplinan anggota dewan. Ia menjelaskan, seorang anggota dewan memang kedatangannya tidak bisa dibatasi dengan jam kerja namun masalah kedisiplinan sangat perlu. Dirinya meminta agar media selalu mengingatkan akan hal itu. “Yang penting pada saat rapat, mereka hadir. Jangan kemudian rapat tidak hadir,” tukas Angouw.

Ia juga mengatakan, akan mengatur kembali hal tersebut dengan Badan Kehormatan (BK). Namun, sangat disayangkan, Ketua BK sendiri, Ivone Bentelu sedang melakukan perjalanan ke luar bersama dengan anggota dewan lain. Tak terkecuali juga, Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPRD Sulut yang memikul 16 Ranperda, ikut tour ke luar negeri. “Kita akan mengatur itu dalam BK,” ujar Angouw akhir pekan lalu.

Dari informasi yang dirangkum, perjalan keluar negeri beberapa anggota dewan memang memakai uang sendiri. Tetapi, yang menjadi soroton beberapa kalangan, melancongnya para legislator Sulut tersebut tidak pada situasi yang seharusnya. Keberangkatan mereka ketika DPRD Sulut sedang bergumul untuk menuntaskan sejumlah Ranperda yang menumpuk. “Memang barangkali mereka berangkat menggunakan uang sendiri tapi yang menjadi persoalan, mereka harus menyelesaikan 16 Ranperda di tahun ini. Itu menggambarkan agenda DPRD Sulut menyelesaikan Ranperda sangat tidak jelas. Optimistis untuk menyelesaikan rentetan Ranperda ini hanya jadi ungkapan semata tanpa tindakan nyata,” sembur pengamat politik dan pemerintahan, Andrey Tandiapa.

Ia juga sangat menyayangkan, ketika mendengar informasi bahwa salah satu di antara yang berangkat merupakan Ketua Baleg. Padahal, perannya dalam menyelesaikan Ranperda sangatlah penting.  Ketegasan Ketua DPRD Sulut dibutuhkan. Jangan kemudian keberangkatan para legislator ini menjadi tameng personil lain untuk bermalas-malasan. “Kita tahu Ranperda yang telah diagendakan ini kan bukan hanya semata dari pemerintah dan para anggota dewan tapi di dalamnya juga terselip aspirasi dari masyarakat sebelumnya. Dengan situasi ini, sebenarnya butuh ketegasan dari ketua dewan,” tutupnya. (hendra mokorowu)



Sponsors

Sponsors