Foto: Demonstrasi sopir angkot di Mantos menolak pemberlakuan jalur satu arah. (foto : devy kumaat)
Ratusan Sopir Gelar Demonstrasi
One Way Traffic di Manado Bermasalah
Manado, ME
Kota Tinutuan kembali tegang. Penerapan jalur satu arah (one way traffic) mendulang polemik. Kebijakan ini dinilai bermasalah, sebab berujung kemacetan. Selain itu, pendapatan sopir terus menukik. Aksi demonstrasi pun tak terhindarkan.
Produk uji coba antara Pemerintah Kota (Pemkot) Manado khususnya Dinas Perhubungan beserta Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Manado, dikritisi. Sopir di sejumlah jalur teriak, buntut merosotnya pendapatan. Penerapan satu arah, berdampak kemacetan dibeberapa titik strategis di Kota Manado.
Gerah dengan pemberlakuan jalur satu arah, ratusan sopir Angkutan Kota (Angkot) Jalur Malalayang-Pusat Kota 45 dan Malalayang-Kampus, menggelar demonstrasi di depan Mantos. Dalam unjuk rasa menyeruak persoalan imbas penerapan kebijakan yang ditenggarai tidak pro sopir dan penumpang ini.
Bekas Ketua Basis Jurusan Malalayang yang bertindak selaku juru bicara dalam demonstrasi, Fransiskus Kaligis, menjelaskan, selain para sopir yang dirugikan, penumpang juga mengeluhkan hal yang sama."Butuh waktu sampai berapa jam untuk sampai di pusat kota dan penumpang pun mengeluhkan dengan alasan terlambat," beber Kaligis.
Kata dia, tujuan sopir menggelar aksi damai untuk meminta pihak berkompeten, agar mengembalikan jalur seperti semula.”Ketika ada perubahan jalur, pendapatan mereka turun Rp100 ribu dibandingkan jalur lama yang mereka raih per hari bisa mencapai Rp200 ribu lebih. Juga waktu yang ditempuh selama mengikuti jalur baru mencapai 2,5 jam saat ini,” urainya.
Ia berjanji, jika aksi tersebut bukan yang terakhir. Sebab, para sopir berencana akan menggelar aksi serupa dengan skala yang lebih besar, usai Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Manado.
“Sebenarnya, bukan kali ini saja ada kebijakan perubahan jalur. Kalau tujuan dilakukan dua arah untuk mengatasi kemacetan saya rasa itu keliru. Harusnya Pemkot Manado lebih cerdas mengatasi persoalan kemacetan,” tambah Karol yang mengaku sopir trayek Malalayang-Pusat Kota, belum lama.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Manado Roy Tambajong, menegaskan, keluhan dari masyarakat khususnya para sopir akan ditampung. Selanjutnya dikaji sesuai aturan yang berlaku.“Dalam aksi mogok mereka, kami hanya menyampaikan berupa arahan bahwa kondisi ini tak semudah mengecap cabe yang langsung terasa pedasnya. Ini sesuai konsepnya, tapi aspirasi para sopir akan dilaporkan ke atasan kemudian dikaji kembali,” jelas Tambajong.
Untuk diketahui, penerapan one way traffic pernah dibahas serius antara Pemkot Manado, Dirlantas Polda Sulut, instansi terkait, pengusaha angkutan umum dan Forum lalu lintas, pertengahan Januari 2016 adakan pertemuan terkait penerapan one way traffic. Usai pertemuan, sosialisasi penerapan jalur satu arah gencar dilakukan. Terutama bagi warga yang tinggal di lorong-lorong yang menghubungkan jalan Boulevard dan Samratulangi. Warga diharuskan memanfaatkan one way traffic termasuk di lorong-lorong, karena akan dibuka untuk umum selama 24 jam.
Sebelumnya, aksi menolak dengan tegas uji coba penerapan jalur satu arah didengungkan sopir mikrolet di Kota Tinutuan khususnya di Basis 01-02 Malalayang. Mereka menilai penerapan one way traffic dengan anggapan mampu mengurai kemacetan, tidak bijak. (tim me)



































