Foto: Ilustrasi.
Harga Jagung Naik, Peternak di Minahasa Mengeluh
Tondano, ME
Harga jagung di Kabupaten Minahasa, mendadak naik beberapa waktu belakangan ini. Kondisi ini, membuat sejumlah peternak, khususnya peternak ayam, babi, kuda dan bahkan pemilik kuda bendi, mengeluh. Pasalnya, mau tak mau mereka dipaksa harus mengeluarkan biaya lebih untuk membeli makanan ternak, khususnya jagung.
Dari pantauan pasar, harga jagung kini masih bermain dikisaran Rp 7.000 sampai Rp 8.000 per kilogram. Sedangkan produk turunannya seperti beras jagung kini dipatok dengan harga Rp 9.000 per liter. Belakangan bahkan harganya hampir menembus Rp 10.000 per liter. Situasi ini tentunya menambah beban yang makin berat bagi mereka untuk bertahan di bisnis ini.
“Kalau harganya terus seperti ini, maka dalam kurun waktu yang tak lama lagi, maka kami harus berpikir untuk mencari pekerjaan lain, artinya dengan harga yang makin mahal seperti ini, kami tak mungkin bertahan dalam situasi seperti ini,” Ferry, salah satu peternak ayam di Kawangkoan.
Hal yang sama juga dikeluhkan oleh para peternak kuda di Kecamatan Tompaso. Menurut mereka, tak punya pilihan lain selain bertahan untuk waktu yang tak lama. “Jagung itu makanan utama untuk kuda, karenanya meski harganya selangit tetap di beli, hanya saja situasi ini jelas tak menguntungkan dan bukan tidak mungkin kami terpaksa menghentikan bisnis ini dengan menjual kuda-kuda ternak kami,” ucap Verdy.
Lain halnya dengan Mekky pemilik kuda pacu, meski di terpah harga jagung yang terus melambung, dirinya mau tidak mau harus membeli jagung bahkan beras jagung untuk kebutuhan kuda. Namun dirinya pun mengakui bahwa kalau harganya tak turun-turun maka jalan satu-satunya kuda-kuda kami harus di jual.
“Kuda pacu jelas beda dengan kuda biasa apalagi dari segi makanan. Kuda pacu butuh perhatian yang sangat ektra, karenanya perlu suplai makanan yang cukup apalagi jagung, tapi kalau harganya terus mahal, maka kami harus berpikir lagi untuk bertahan,” tukasnya.
Dari data yang diperoleh, pasokan jagung di Minahasa hampir semuanya didatangkan dari luar daerah, sementera di Minahasa sendiri sejauh ini produksi jagung kian sedikit, para petani menurun niatnya untuk menanam jagung oleh karena kesulitan mendapatkaan pupuk.
Sejumlah penjual pakan ternak, mengaku bahwa kenaikan jagung lebih disebabkan oleh suplai jagung datang dari luar daerah, dengan sendirinya hargaa jagung menjulang tinggi. Ditambah lagi kuotanya tidak terlalu banyak. (kelly korengkeng)



































