Foto: Jalur satu arah di Kota Manado.
‘Manado One Way Traffic’ Dipolemikkan
Manado, ME
Kebijakan memberlakukan jalur satu arah di Kota Manado melalui program ‘Manado One Way Traffic’ berujung polemik. Ada yang setuju namun tak sedikit pula warga pengguna jalan yang menunjukkan respon negatif.
Arus protes utamanya mengalir deras dari kalangan sopir angkutan umum yang mengaku sebagai pihak yang paling dirugikan atas kebijakan ini. Kurangnya sosialisasi serta makin bertambahnya jarak tempuh yang harus dilalui kendaraan angkutan umum jadi pemicu sikap protes para sopir.
“Sekarang mo cari penumpang so lebe susah. Bagimana katu, deng penumpang so bingo mo nae oto mana. Ini lantaran nda ada sosialisasi lebe dulu dari pihak berwajib kong kase kaluar aturan satu arah bagini. Depe akibat, samua dirugikan, apalagi pa torang di kalangan sopir angkutan umum,” ketus Stenly, salah satu sopir mikro trayek Malalayang - Pasar 45.
Bahkan tak hanya kalangan sopir, kondisi serupa juga dirasakan warga pengguna jasa angkutan umum. Ada yang mengeluh karena jarak tujuan yang seharusnya dekat kini bertambah jauh akibat kendaraan harus memutar. "Tempat tujuan yang seharusnya dekat, kini harus putar jauh. Selain itu yang saya lihat kini malah semakin macet karena terjadi penumpukan di daerah zero point," keluh Rine, warga Bahu, yang biasa menggunakan jasa angkutan umum.
Namun ada juga warga yang memberikan apresiasi dan dukungan atas program ini. Utamanya pengguna kendaraan pribadi roda dua. “Kalau sudah ada kebijakan dari polisi, wajiblah kita dukung. Toh itu juga sebagai salah satu upaya untuk mengatasi kemacetan. Meski memang saat ini belum optimal karena baru mulai diberlakukan,” kata Riane, salah satu pegawai swasta yang mengaku biasa menggunakan kendaraan roda dua.
Seperti diketahui, program jalur satu arah Kota Manado ini resmi diberlakukan pada Sabtu (6/2), sejak pukul 06.00 WITA pekan lalu. Rute yang diatur mengikuti arah jarum jam. Dimulai dari pertigaan Bahu, Jalan Piere Tendean (Boulevard) menuju pertigaan lampu merah Marina Plaza. Belok ke kanan arah Zero Point, belok kanan lagi sepanjang Jalan Sam Ratulangi sampai di tugu Pikat, Jalan Ahmad Yani Sario sampai di SPBU. Setelah itu, belok kanan arah Malalayang hingga kembali di pertigaan Bahu.
Pada hari pertama penerapan jalur satu arah, sejumlah Anggota Polantas, Sat Pol PP dan Dinas Perhubungan ditempatkan di jalan-jalan penghubung antara Boulevard-Jalan Sam Ratulangi maupun Boulevard-Jalan Ahmad Yani. Jalan-jalan penghubung di sepanjang jalur searah ini, diatur dimana yang bisa masuk dan dimana yang tidak.
Perubahan satu arah juga dilakukan di Jalan Sudirman. Kendaraan dari arah Boulevard, harus belok kiri Zero Point, melewati TKB, belok kiri arah Jalan Roda hingga lampu merah Komo Luar kemudian kanan menuju Gereja Sentrum.
Sementara dari hasil pantauan media ini, para personel Polantas Polda Sulut dan Polresta Manado melakukan pengaturan arus lalu lintas bersama Dirlantas Polda Sulut Kombes Pol Subandriyah untuk turut memantau langsung penerapan jalur satu arah ini dengan berkendara sepeda motor PJR.
Di beberapa titik, Subandriyah berhenti sesaat untuk memberikan arahan maupun menanyakan situasi kepada para anggota polisi yang sedang bertugas, bahkan memberitahu langsung pada salah seorang pengendara mobil yang salah arah. “Satu arah Pak, silahkan berputar,” himbaunya sambil memperlambat laju sepeda motornya ketika melintas di ruas Jalan Piere Tendean.
Menurut Subandriyah, penerapan program One Way Traffic ini selain untuk mengurangi kemacetan, juga dalam rangka mendukung program Pemprov Sulut ‘Mari Jo Ka Manado’. “Kalau ada wisatawan yang datang ke Manado, lalulintas kita sudah tertata dengan baik,” ungkapnya.
Dikatakan Subandriyah, program satu arah ini bukan program uji coba, namun akan diberlakukan secara terus menerus sampai batas waktu yang tidak ditentukan. “Jika ada masalah, kita cari solusinya dengan melibatkan pemerintah maupun masyarakat,” sebut dia. (tim me)



































