Foto: Ilustrasi.
BSM 'Disunat', Kepsek Mengaku Sumbangan Sukarela Orang Tua Murid
Amurang, ME
Merebaknya dugaan kasus pungli terhadap siswa SMAN 1 Sinonsayang, membuat Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Minahasa Selatan (Minsel) turun ke sekolah tersebut untuk melakukan klarifikasi langsung baik kepada Kepala Sekolah (Kepsek), guru maupun siswa.
Kunjungan Ketua Komisi III, Toar Kentjem bersama dua anggota komisi lainnya Elvis Khodong dan Meivy Karu secara tiba-tiba di sekolan ini, sempat membuat Kepsek, Juliana Rugian SPd kaget karena tak menyangka jika akan ada anggota DPRD dan insan pers yang hendak menemui dirinya.
“Saya tadi sudah bersiap untuk pulang dan saya kaget melihat ada tamu yang datang,” ungkapnya.
Menariknya, saat ditanyai tentang keluhan pemotongan dana Bantuan Siswa Miskin (BSM) yang jumlahnya bervariasi terhadap sejumlah siswa, dengan kalimat terbata-bata dirinya mengaku jika uang tersebut merupakan kerelaan orang tua siswa untuk diberikan kepada guru yang mengurus administrasi dana tersebut.
“Sebenarnya sudah tidak ada guru yang mau mengurus dana ini karena sudah masuk libur sekolah dan mereka disibukkan dengan persiapan hari Natal, namun saya yang meminta kepada mereka,” ujarnya terbata-bata.
Menurutnya, dana tersebut diterima langsung oleh siswa melalui rekening dan tidak melalui guru. “Siswa yang mengambil langsung ke teller dan setelah itu memberikan partisipasi kepada guru yang mengantar mereka ke Bank. Saya sendiri tahu setelah menerima laporan dari guru. Namun setelah merebak masalah ini ke media massa, uang tersebut langsung dikembalikan kepada siswa akan tetapi ada orang tua yang enggan menerima kembali. Mereka beralasan uang tersebut sebagai pengganti lelah para guru yang mengurus adminstrasi,” kelitnya.
Sementara dari data yang berhasil diperoleh, ternyata ada 10 siswa penerima yang sudah tidak sekolah di tempat tersebut. Namun nama mereka masih tercantum sebagai penerima. Akibatnya sekolah mengganti siswa lain untuk mengatasnamakan nama yang tercantum.
“Sebenarnya bantuan untuk ke 10 siswa ini sebesar 1 juta rupiah per orang, namun para siswa yang menggantikan mereka hanya di berikan Rp.150.000. Nda tau depe sisa da kase pa sapa,” ungkap salah satu guru yang enggan namanya disebutkan.
Menanggapi hal ini, Ketua Komisi III DPRD Minsel, Toar Kentjem mengatakan jika pihaknya kembali akan menemui siswa penerima bantuan melakukan kroscek. “Jika terbukti, kami akan memanggil hearing Kepsek yang bersangkutan serta Dinas terkait,” tegasnya. (tim me)



































