Kehadiran Kapal 'Genset Raksasa' Bagian Dari Program Jokowi


Amurang, ME

Kapal 'Genset Raksasa' atau kapal listrik Zeynep Sultan atau Marine Power Plant (MVVP) dengan kapasitas 120 Mega Watt (MW), telah resmi beroperasi. Pada saat syukuran yang dilakukan di PLTU Amurang siang tadi, Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Soni Sumarsono mengatakan penting berkaitan dengan kapal tersebut.

“Ada tiga step yang ingin saya stressing. Yang pertama adalah pra kedatangan kapal genset raksasa ini, yang kedua selama pemasangan dan yang ketiga sebelum operasikan secara resmi hari ini atau kita launching,” kata Sumarsono saat memberikan sambutan, Sabtu (30/1).

Kehadiran kapal ini di Sulut dan Gorontalo (Sulutgo) merupakan bagian dari program 35 ribu MW oleh Presiden Jokowi dan dimulai dari Sulutgo, tepatnya di Amurang.

“Karena ini masih gress masih reyen, sistemnya juga masih baru jadi sekaligus sebagai awal atau try out. Kalau ini berhasil, maka kapal-kapal yang lain akan didatangkan di daerah lain yang masih devisit listrik,” jelasnya.

Dia juga mengatakan pemerintah pusat akan melaunching program yang lebih besar, namanya Indonesia Terang. Program ini akan dibicarakan pada 11 Februari nanti di Bali. Untuk program ini surplusnya dua provinsi selebihnya masih devisit. Makanya setiap wilayah pasti ada pemadaman, namun reaksi masyarakat berbeda.

“Di Nusa Tenggara Timur (NTT), kalau mati bukan ukuran jam, ukurannya mati berapa hari bahkan sampai dua minggu tapi tidak ada reaksi masyarakat apalagi di facebook. Kalau di Sulut, mati 20 jam teriak,” ungkap Sumarsono dengan candaaan.

“Itu bedanya karena sarana facebook betul-betul sudah menjadi kehidupan masyarakat, komunikasi sudah menjadi bagian dari demokrasi yang berkembang di Sulut, kontrol sosial sudah berjalan, ini resiko. Siapapun juga menjadi pemimpin di Sulut dan Gorontalo, keterbukaan informasi dan interaksi adalah bagian konsitensi kepemimpinan yang harus kita hadapi,” jelasnya.

Dia menuturkan, menghadapi pemasalan di Gorontalo dalam hubungan dengan Sulut dalam konteks listrik jangan pernah tergantung sekalipun dengan negara lain. Ini diibaratkan seperti kopi sachet tinggal sobek diseduh jadi secangkir kopi.

“Listriknya instan ngak usah bangun pabrik, lalu dibawah disini berlabuh keluarlah 120 MW. Untuk mengurangi devisit dengan beban 325 MW diinsert 120 kita masih surplus 50 MW, ini adalah solusi instan,” jelasnya lagi.

Ini ada batas waktu, kontraknya sampai lima tahun . Karena itulah dia mengingatkan harus membawa kapal ini bagian dari transisi untuk membangun sebuah kedaulatan dibidang energi dan berdaulat dibidang energi.

“Kapal ini seperti penjabat gubernur Sulut, transisi antara Pak SHS dan Pak Olly. Sama itu transisi maka waktunya dibatasi. Tapi setelah itu harus dibangun beberapa ratus MW untuk mampu mengantikan sistem ini sehingga bisa permanen sepanjang masa,” papar Sumarsono.

“Intinya listrik sangat penting. Walaupun saya dengungkan program pengembangan wisata 'Mari Jo ke Manado', supporting listrik menjadi sangat penting. Dalam konteks itu kedaulatan dibidang energi harus tetap dibangun. Kelak kita akan mandiri dibidang energi berdaulat dibidang energi dan itu menjadi tujuan dan sasaran kita bersama.”

“Ini prosesnya. Oleh karena itu saya kira kehadiran kapal turki saya jelaskan ini bukanlah kebijakan yang sifatnya permanen. Ini adalah transisi untuk supaya masyarakat segera terlayani dengan kehadiran kapal pembangkit ini. Maka kita surplus, industri bisa terangsang untuk tumbuh, investasi juga terangsang,” sebutnya. (jerry sumarauw)



Sponsors

Sponsors