Harga Suku Cadang Naik, Sopir Angkot Resah
Amurang, ME
Sejumlah sopir angkutan kota (angkot) mengaku resah, menghadapi rencana pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam waktu dekat ini.
"BBM belum naik tapi harga suku cadang kendaraan so naik," ujar Calvin (36), seorang sopir angkutan umum dengan dialek manadonya, Jumat (14/06).
Calvin mengungkapkan, kenaikan harga BBM dan suku cadang, sudah pasti akan mempengaruhi besaran setoran pada pemilik angkutan. Saat ini dia wajib memberikan Rp 75 ribu dalam sehari.
Soal kompensasi dari pemerintah yaitu Bantuan Langsung Tunai (BLT), ia tidak ambil pusing. Ia mengatakan, program kompensasi BLT itu tidak pernah dia rasakan. Karena, lanjut calvin, BLT ini hanya untuk kelompok masyarakat dengan kondisi miskin. "Kita kasiang nda pernah menikmati yang namanya BLT," tegasnya.
Ditambahkannya, setiap hari, ia harus bekerja sebagai sopir angkot hanya mampu mendapatkan penghasilan rata-rata Rp 50 ribu per hari. “Pengahasilan yang kita da cari cuma for kebutuhan keluarga satu hari," terangnya.
Hal senada diungkapkan Randy (29). Dia menuturkan, rencana kenaikan BBM itu, akan menjadi beban bagi para sopir karena harga akan diikuti dengan naiknya harga suku cadang. Ia juga mengharapkan adanya penyesuaian tarif jika rencana kenaikan BBM itu terealisasi.
"Kalo BBM naik, pemerintah harus menyesuaikan tarif angkutannya juga," katanya.
"Biasanya, harga kebutuhan pokok ikut naik. Yang pasti memberatkan kami, karena penghasilan kami tidak sesuai dengan pengeluaran," ujarnya seraya berharap agar pemerintah dapat memberikan subsidi kepada sopir angkot. (Jerry Sumarauw)



































