Menggali Akar Musabab Beringin Membonsai


 

Catatan: Rio R. Rumagit

(Pemimpin Redaksi Surat Kabar Harian Media Sulut)

UNTUK kesekian kalinya, Golkar kembali tumbang di pentas politik Sulawesi Utara. Drama perhitungan Pemilukada Minahasa Tenggara Kamis (13/6) kemarin berakhir pahit bagi ‘Beringin’ Sulut. Telly Tjanggulung, calon bupati Golkar cuma meraih posisi kedua. Kalah dengan selisih mencolok dari James Sumendap, calon usungan PDIP. Lingkar Survei Indonesia mencatat angka 28,76 berbanding 40,94 persen.

Selisih yang mengejutkan ditilik dari latar belakang T2 (nama alias Tjanggulung) sebagai seorang juara bertahan. Apalagi dengan aneka hasil survei elektabilitas pra-pemilukada yang sedemikian menjulang bagi kubu T2. Semuanya berantakan di hari H.

Kendati belum bersifat final, angka dan prosentase yang dicatat beragam quick count bukan sekedar klaim prematur. Faktanya, prosesi pasca penghitungan suara termasuk adu jotos di Mahkamah Konstitusi tak berpengaruh signifikan (bahkan nyaris tak berpengaruh) terhadap hasil akhir di banyak Pemilukada. Pendek kata, Sumendap-Kandoli tinggal harus melalui tahapan formil saja sebelum menduduki kursi tertinggi di Kabupaten Mitra.

Namun tak demikian dengan konstelasi perpolitikan di bumi Nyiur Melambai. Hasil Pemilukada Mitra dapat dipastikan akan menggetarkan kerak-kerak internal Golkar Sulut. Kekalahan itu kian melegitimasi rontoknya cabang-cabang kokoh Beringin Sulut setengah windu terakhir di era Stefanus Vreeke Runtu (SVR). 12 kali bertarung, 10 kekalahan, dan hanya 2 kemenangan. Sebuah rekor yang sangat menyesakkan dada untuk ukuran parpol sebesar Golkar. Apalagi merunut fakta sejarah bahwa Sulut merupakan salah satu ‘lumbung kuning’ pasca reformasi.

Beringin pernah sedemikian ‘angkuh’ di Sulut. Paruh awal dekade terakhir, parpol yang identik sebagai penguasa orde baru itu sempat merajai sembilan arena suksesi politik di Sulut. Provinsi, Manado, Minahasa, Bolmong, Tomohon, Talaud, Sangihe, Kotamobagu, dan Mitra. Sukses besar itu diraih Golkar Sulut dibawah periode sang ‘God Father’ mendiang Adolf Jouke Sondakh, dan sang ‘Pangeran’ Jimmy Rimba Rogi.

Nasib Golkar Sulut mulai sengkarut saat tongkat komando berpindah tangan ke SVR, November 2009. Satu persatu daerah ‘kekuasaan’ melayang. Provinsi, Manado, Bolmong, Sangihe, Minahasa, dan yang teranyar Pemilukada Mitra, lepas oleh kekalahan. Belum lagi ketidak-mampuan merebut kemenangan di Boltim, Bitung, Minut, Bolsel, Bolmut, dan terakhir Sitaro. Praktis, hanya pertarungan di Tomohon dan Minsel yang sukses dimenangkan Golkar Sulut di era SVR. Plus peluang kembali mempertahankan kemenangan di Kotamobagu yang gelaran Pemilukada-nya sudah di depan mata.

Merosotnya performa Beringin di Sulut memang tak semata-mata kesalahan oknum tertentu. Menyalahkan SVR seorang atas mirisnya pencapaian Golkar di Sulut secara kelembagaan, terlalu kejam. Tapi, bukan juga tak beralasan. SVR dengan kewenangannya seumpama seorang manajer dalam sebuah klub sepakbola. Ia harus bertanggung-jawab dan siap menerima konsekuensi dalam setiap kebijakan penting seperti perekrutan pemain, ofisial, pelatihan, pengaturan strategi, hingga keputusan-keputusan kecil dalam pertandingan.

Lepas dari polemik kapasitas dan kapabilitas pemimpinnya, siluet melelehnya kekuatan politik Golkar Sulut sudah membayang sejak lama. Kasus demi kasus bernuansa korupsi yang menjerat sejumlah kader potensial di periode lima tahun terakhir membawa bencana bagi Beringin Sulut. Jimmy “Imba” Rogi, Jefferson “Epe” Rumajar, dan Elly Lasut adalah tiga kader potensial Golkar Sulut yang kini mendekam di ‘hotel prodeo’ lantaran terbukti korupsi. Beberapa politisi Golkar lain di level provinsi dan kabupaten kota juga terjerat kasus serupa. Fakta itu lantas memicu efek domino. Partai Golkar terjebak dalam situasi krisis kader.  

Situasi tambah parah lantaran strategi instan yang digulirkan di beberapa lintasan suksesi kemudian hari. Penentuan calon kepala daerah yang disusupi subjektifitas hingga melahirkan skema politik dinasti, membuat Beringin Sulut kian membonsai. Survei elektabilitas disulap agar kongruen dengan survei silsilah. Bukan kecenderungan umum memang, tapi tampak jelas di beberapa daerah. Bolmong dan Minahasa adalah yang paling kentara.

Luruhnya kejayaan Golkar Sulut memang bukanlah alamat kiamat. Goresan sejarah mencatat, Golkar adalah parpol paling adaptif di kancah politik Indonesia. Berhasil bangkit usai terhempas arus reformasi, Partai Golkar mampu menjaga konsistensinya sebagai salah satu partai yang paling berpengaruh. Kenyataan itu lebih dari cukup bagi para kader dan pendukung di Sulut untuk tetap optimis menatap Pemilu 2014 mendatang.

Namun yang perlu diingat, fakta sejarah juga mencatat bahwa kemampuan adaptasi Partai Golkar itu pun tak lepas dari eliminasi terhadap para pemimpin yang gagal mengemban misi politik partai. Yang mana, merebut dan mempertahankan kekuasaan adalah keniscayaan. Apakah model eliminasi itu pun menjadi konsekuensi yang harus terjadi di Golkar Sulut demi adaptasi jelang tahun politik 2014 nanti? Wallahualam. (***)  



Sponsors

Sponsors